Ratih Handayaningrat

Saya Ratih Handayaningrat, pengajar pada SMPN 1 Baros kab Serang, Banten, berdomisili di Pandeglang, Banten. Pernah mengikuti kegiatan Sagusabu Banten I. ...

Selengkapnya

EFEKTIFITAS KURIKULUM 2013

Kata “kurikulum” berasal dari kata bahasa Latin yang berarti “jalur pacu.” Kurikulum, sejatinya adalah “suatu garis besar pelajaran.” Kurikulum di Indonesia berjalan dinamis dengan berbagai perubahan, perbaikan dan pengembangan mulai tahun 1947, 1968, 1975, 1984 (CBSA), 1994, 2004 (KBK), 2006 (KTSP), dan 2013. Berbagai perubahan dan nama kurikulum memberikan konsekuensi logis kepada pendidik (guru), sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum. Pemberlakuan ini disambut pro dan kontra. Sikap ini timbul dilandasi oleh pemahaman dan penelaahan yang telah mendalam tentang kekurangan dan kelebihan kurikulum 2013. Sikap ini masih normatif mengingat kurikulum 2013 adalah barang baru, yang tentu saja belum diakrabi oleh semua kalangan yang berkompeten dengannya. Tegasnya belum semua kalangan pendidikan mengenal dan mengakrabi barang ini.

Berkaitan dengan barang baru tersebut (kurikulum 2013), disambut sangat antusias dan sangat bersemangat oleh para guru yang tergabung dalam forum MGMP, untuk mensosialisasikan dan menerapkannya di tempat asal masing-masing. Pada kesempatan ini juga dilakukan ‘sharing’ dengan para pendidik yang sekolahnya menjadi sekolah percontohan kurikulum 2013. Banyak hal menarik yang perlu disikapi, diperhatikan serta ditindaklanjuti oleh pemegang kebijakan pendidikan sebagai ‘pointing’ melakukan ‘political will’ sehingga menjadi ‘good will.’ Beberapa hal yang dimaksudkan adalah sebagai berikut.

1) Penyediaan Aplikasi Komputer/Soft Ware Pengolahan Data

Pelaksanaan kurikulum 2013 seperti tercantum dalam “Buku Guru” menuntut banyak sekali penilaian terhadap peserta didik, dengan porsi terbesar pada penilaian aspek sikap dan dua aspek lainnya yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pada sistem penilaiannya berlaku secara kuantitatif dan kualitatif. Pertanyaannya, sudahkah sistem penilaian ini seragam di Banten? Ternyata setiap sekolah memiliki sistem yang berbeda dengan hak paten yang tidak boleh diintip sekolah lain. Otomatis bentuk Buku Laporan Pendidikan (Rapot) tidak seragam pula. Ini tantangan sekaligus PR yang harus dirampungkan oleh Dinas Pendidikan Banten, bahkan mungkin juga propinsi lain di nusantara. Jika hal ini segera dicarikan solusinya, semua pekerjaan akan terselesaikan pada waktunya. Sehingga tidak ada lagi cerita rapot telat dibagikan sehubungan penilaian belum tuntas dikerjakan karena: 1) Penilaian dikerjakan masih memakai cara manual, tidak menggunakan aplikasi komputer penunjang. Jika Dinas Pendidikan semua daerah di nusantara berkomitmen kuat untuk suksesnya pelaksanaan Kurikulum 2013, agar menyediakan aplikasi komputer yang harus dimiliki oleh semua sekolah. Tentu saja pembiayaannya harus dianggarkan. 2) Sekolah tidak memiliki standar baku untuk merubah data nilai kuantitatif menjadi kualitatif dari hasil penilaian terhadap peserta didik, atau sebaliknya dari kualitatif menjadi kuantitatif. Dinas Pendidikan perlu memiliki pedoman baku penilaian kuantitatif dan kualitatif yang bisa diunduh semua sekolah; 3) Format Buku Laporan Pendidikan (Rapot) belum seragam karena belum dibakukan oleh Dinas Pendidikan.

2) Pengelolaan Kelas

Mengingat banyaknya pekerjaan penilaian yang harus dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik, perlu dipertimbangkan kembali banyaknya jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar (rombel//kelas). Masih banyak sekolah menerima jumlah peserta didik dengan klasifikasi kelas gemuk, yang jumlahnya lebih dari 40 orang per kelas. Penerapan kurikulum 2013 menuntut pemberlakuan kelas-kelas ramping yang bisa disepakati bersama dengan Dinas Pendidikan dan stakeholder sekolah masing-masing. Pemberlakuan kurikulum 2013 akan menyenangkan sekali bagi pendidik pada sekolah-sekolah SSN, eks RSBI atau eks SBI yang jumlah peserta didik dalam tiap kelasnya benar-benar ramping antara 20 – 26 orang.

3) Standar Sarana dan Prasarana

Kurikulum 2013 menuntut pergerakan peserta didik yang ‘mobile’ ditunjang sarana dan prasarana yang memadai. Dalam hal ini pihak sekolah perlu lebih memfasilitasi ketersediaan alat peraga dan media yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Juga yang perlu disediakan oleh sekolah adalah penggandaan format penilaian yang akan dipakai oleh semua guru mata pelajaran. Dengan pemberlakuan K-13, idealnya setiap guru akan membutuhkan puluhan format penilaian, atau sejumlah peserta didik yang diajarnya. Sanggupkah sekolah menyediakan dana foto kopi? Terutama sekolah yang jumlah peserta didiknya sedikit, sehingga dana BOS yang diterima sekolah pun sedikit. Seyogyanya Dinas Pendidikan bisa melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi terhadap seluruh sekolah berkaitan dengan ketersediaan dan penggunaan dari format penilaian, alat peraga dan media pembelajaran, segera setelah diberlakukannya kurikulum 2013.

4) Evaluasi Kinerja Pendidik

Evaluasi kinerja dapat dilakukan untuk mengetahui berkembang atau tidak berkembangnyanya seseorang atau kelompok pendidik pasca pemberlakuan kurikulum 2013. Beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan oleh pemegang kebijakan untuk melakukan evaluasi kinerja, antara lain: 1) Produktivitas, merupakan derajat keefektifan dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Bisa juga dikatakan suatu sikap mental yang senantiasa terus berkembang dan merupakan identifikasi keberhasilan atau kegagalan dalam menghasilkan suatu produk tertentu secara kuantitas dan kualitas dengan pemanfaatan SDM dan sumber-sumber lain secara benar. Produktivitas dipengaruhi oleh prestasi akademik, kreativitas dan pemimpin; 2) Etos kerja, adalah sikap mental untuk menghasilkan produk kerja yang baik, bermutu tinggi, baik barang maupun jasa. Etos kerja dipengaruhi oleh sikap, pandangan, cara-cara dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang ada pada seseorang, suatu kelompok atau bangsa; 3) Motivasi. Mc. Donald (2008 : 148) menyatakan bahwa Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan atau afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Sejalan dengan hal tersebut, Maslow menegaskan bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh berbagai kebutuhan yang dimiliki dan menyertainya sehingga mampu mendorong/memotivasi tingkah laku individu. Semakin tinggi produktivitas, etos kerja juga baik dan didorong oleh motivasi yang kuat pada akhirnya akan menghasilkan kinerja yang terus berkembang.

Sekuat apapun usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan akan jomplang tanpa didukung oleh ujung tombak yang berkompetensi unggul. Apapun kurikulumnya, yang harus dimiliki oleh pendidik saat ini tinggal kemauan, kemampuan dan tekad yang kuat untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut. Guru Indonesia, ayo semangat!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali