Ratih Handayaningrat

Saya Ratih Handayaningrat, pengajar pada SMPN 1 Baros kab Serang, Banten, berdomisili di Pandeglang, Banten. Pernah mengikuti kegiatan Sagusabu Banten I. ...

Selengkapnya

SALON? FITNESS CENTER? AH, BIASA….

Ibu, adalah sebutan dan status agung yang disandang kaum hawa. Sampai sekarang hegemoni ini tidak terbantahkan. Banyak kaum hawa mendambakan status tersebut. Sebagian kaum hawa melakukan berbagai upaya untuk memperolehnya. Tidak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Terlepas dari semua itu, perkembangan zaman tidak juga bisa merubah hegemoni tersebut. Tetapi ada sedikit pergeseran ‘habitual’ yang biasa dilakukan kaum ibu ‘zaman NOW.’

Banyak bulan-bulan dalam satu tahun yang memiliki momen istimewa diantaranya adalah Hari Kartini dan ‘Hari Ibu’ atau ‘Mothers Day.’ Seberapa banyak dan seberapa besar kebermaknaan perayaan ini bagi kaum hawa di bumi pertiwi? Masih perlukah diadakan lomba-lomba kebaya, kontes-kontes keterampilan ‘make up’ atau lomba tumpeng untuk merayakannya? Perlukah dilakukan audisi dan kontes pemilihan “Mother of The Year?” atau “Woman of The Year?” Apakah esensi hari Kartini dan hari Ibu hanya sebatas itu semua? Apakah memang seperti ini yang diharapkan oleh Raden Dewi Sartika sebagai sumber inspirator hari Ibu? Aataukah hanya sedemikian yang diangankan oleh Raden Ajeng Kartini?

Ibu sebagai madrasah pertama dan utama

Rumah adalah lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan anak dimulai dari dalam rumah. Pengaruh pendidikan masa kecil biasanya membekas sedemikian kuat. Nilai, norma, dan moral yang ditransferkan oleh orang tua sangat menentukan. Dalam praktiknya, kaum ibulah yang menjadi tonggak utama. Kaum ibulah sebagai “sekolahan” pionir dalam pertumbuhan individu sang buah hati. Jika sang buah hati mampu melakukan aktivitas positif melampaui ekspektasi orang tuanya, maka orang tua berlomba congkak (Siapa dulu dong ibunya? Siapa dulu dong ayahnya?)

Ibu, kasihmu tiada bertepi. Jargon ini tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Dan berbagai jargon kemuliaan ibu begitu banyak disuarakan dalam berbagai budaya dan bahasa. Saking dahsyatnya pengaruh seorang ibu, mengakibatkan terjadinya sindrom “oedipus complex.” Sindrom ini biasanya diidap oleh kaum adam yang sangat haus kasih sayang dari sosok ibunya. Sigmund Freud, melontarkan istilah psikoanalisis tersebut karena diilhami oleh Sophocles (cerita Yunani kuno) tentang seorang Oidipus Rex yang bersaing dengan ayahnya, Laios, untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang ibunya, Lokaste, sehingga Oidipus tega membunuh ayahnya dan kemudian menikahi ibunya. Naudzubillaahimindzaalik. Beruntung ini hanya sebatas cerita pada manuskrip kuno.

Tugas seorang ibu memang berat. Gempuran zaman modern semakin menambah berat beban yang dipikul untuk mendidik, mengasuh dan mengayomi sang buah hati. Seabreg rutinitas harian bak kecupan manis mentari pagi yang semburatnya menyehatkan. Telapak tangan yang dulu halus lembut, kini menjadi tebal dan kasar. Kulit muka dan badan yang dulu halus terawat, kini agak kusam. Dulu semasa lajang selalu kuatir muncul kantung mata, kini gangguan itu sering muncul malah susah pergi. Bahkan garis-garis halus kerutan mulai muncul di area wajah. Bagi kebanyakan kaum ibu, ini adalah masalah urgen. Harus segera dicari solusinya. Bagi sebagian lagi, nikmatilah siklus alamiah tersebut. Tidak usah grasa-grusu mencari solusi, abaikan saja. Faktanya, secara alamiah wanita sangat menyukai keindahan dan kecantikan, juga perlu dimanja. Kalau tidak bisa bermanja-manja, minimal memanjakan diri. Istilah zaman now untuk memanjakan diri disebut dengan me time.

Salon? Fitness Center?

Menurut seorang psikolog dalam sebuah laman psikologi, bahwa me time dilakukan untuk membebaskan diri sejenak dari rutinitas harian, guna mendapatkan energi baru untuk menghadapi rutinitas harian itu lagi. Singkatnya waktu dan padatnya aktivitas, mengharuskan kaum ibu berpikir cerdas untuk menikmati me time. Banyak alternatif untuk melakukan me time. Mulai dari melakoni hobi, hang out dengan sahabat, traveling, wisata kuliner, perawatan tubuh di salon atau ber’gym’ di pusat kebugaran. Maka pilihan cerdas jadi keharusan untuk menikmati me time. Ke salon atau ke pusat kebugaran (fitness center) sepertinya adalah pilihan cerdas. Hasil akhirnya adalah badan sehat segar dan penampilan pun semakin cantik menarik. Dijamin kepercayaan diri ikut meningkat. Jika sudah demikian, diharapkan aktivitas dan produktivitas meningkat pula.

Berbicara tentang salon dan fitness center, sepertinya bukanlah hal yang mewah dan tabu. Keberadaan salon dan tempat “ngegym” sudah menjamur sampai ke pelosok daerah. Tentunya tarif kedua tempat sangat variatif. Mulai dari yang murmer (murah meriah) minimalis hingga yang selangit dengan fasilitas maksimalis. Kaum ibu tinggal memilih sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing. Sepertinya, “nyalon” dan “ngegym” tidak berlawanan dengan semangat yang ditularkan oleh Raden Dewi Sartika. Justeru nyalon dan ngegym ibarat vitamin tambahan buat kaum ibu dalam menikmati me time. Setelah me time, kembalilah ke habitual dan ritual harian. Kembalilah berjuang mengantarkan sang buah hati menuju cita-cita mulia. Kembalilah kobarkan semangat dan maknai esensi peran seorang Ibu. Salon? Fitness Center? Ah, itu mah biasa!

(Alumni SAGUSABU Banten Angkatan I)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Perempuan zaman now yah Bund. Sukses selalu dan barakallahu fiik

12 Jun
Balas

Saya malah tdk rajin ke salon atau ngegym. Cuma lihat fenomena saja. Itu sdh lazim. Karena banyak pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial. Wanita Indonesia hebat!

26 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali