Ratih Handayaningrat

Saya Ratih Handayaningrat, pengajar pada SMPN 1 Baros kab Serang, Banten, berdomisili di Pandeglang, Banten. Pernah mengikuti kegiatan Sagusabu Banten I. ...

Selengkapnya

SISWA DISIPLIN, SISWA BERKARAKTER

Kegiatan pembelajaran semester genap tahun pelajaran 2018-2019 hampir usai. Semester depan pada tahun ajaran baru, sekolah kembali kepada rutinitas biasanya dalam membentuk kepribadian siswa. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi siswa untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character.....that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis diatas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam sekolah terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran pendidik, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu dan ditiru, dipertaruhkan. Karena pendidik adalah ujung tombak di sekolah, yang berhadapan langsung dengan semua siswanya di dalam dan di luar kelas. Bagaimana upaya pendidik untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswanya menuju terbentuknya generasi unggul dalam pembangunan bangsa?

Pendidikan Karakter

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat. Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui pengembangan budaya sekolah (school culture), akan tetapi juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya. Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan (aspek kognitif), akan tetapi juga mampu merasakan (aspek afektif) serta dapat melakukannya (aspek psikomotorik) dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat.

Pendidikan Karakter Holistik

Pendidikan karakter diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi energy dan mesin yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak. Sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Karakter yang dapat membawa keberhasilan yaitu empati (mengasihi sesama seperti diri sendiri), tahan uji (tetap tabah dan ambil hikmah kehidupan, bersyukur dalam keadaan apapun), dan beriman (percaya bahwa Tuhan). Ketiga karakter tersebut akan mengarahkan seseorang ke jalan keberhasilan. Empati akan menghasilkan hubungan yang baik, tahan uji akan melahirkan ketekunan dan kualitas, beriman akan membuat segala sesuatu menjadi mungkin.

Dalam pembentukan karakter ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, anak tak mau mencuri, karena tahu mencuri itu buruk, ia tidak mau melakukannya karena mencintai kebajikan. Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya. Lewat proses pembelajaran, beberapa pilar karakter yang penting ditanamkan pada anak. Ia memulainya dari cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya; tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; kejujuran; hormat dan santun; kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati; toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Tujuan mengembangkan karakter adalah mendorong lahirnya siswa yang baik. Begitu tumbuh dalam karakter yang baik, siswa akan tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukannya dengan benar, dan cenderung memiliki tujuan hidup.

Tips Membangun Karakter

Upaya yang dilakukan oleh pendidik dan orangtua dalam membangun karakter anak antara lain : 1) Memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak; 2) Memenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan yang bergizi; 3) Pola pendidikan pendidik dengan orangtua yang dilaksanakan baik dirumah dan di sekolah saling berkaitan.; 4) Berikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji.; 5) Berikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya; 6) Bersikap tegas, konsisten dan bertanggungjawab.

Disiplin Sebagai Karakter Utama

Membicarakan siswa berkaitan dengan pendidikan, Driyarkara (1980) menyatakan bahwa : Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf mendidik. Selanjutnya Nanang menjelaskan apabila dikaitkan dengan keberadaan dan hakikat manusia, maka pendidikan adalah untuk mengembangkan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk beragama (religius).

Di lingkungan sekolah, salah satu cara untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut adalah dengan menerapkan disiplin kepada seluruh siswa terutama disiplin diri (self-discipline). Disiplin merupakan salah satu pilar dari 18 pilar pendidikan karakter. Hal ini sangat penting untuk mendukung terlaksananya program-program pembelajaran lainnya yang berlangsung di sekolah dan sebagai proses pembiasaan bagi siswa. Dengan perkataan lain, disiplin adalah keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senang hati.

Untuk menanamkan disiplin sekolah perlu dimulai dengan prinsip yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yakni sikap demokratis. Sehubungan dengan itu, maka menentukan peraturan disiplin perlu berpedoman pada hal tersebut, yaitu dari, oleh dan untuk siswa. Sedangkan pendidik bersikap dan bertindak mengacu pada ‘tut wuri handayani,“ seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.

Melalui berbagai upaya diatas diharapkan tercipta iklim yang kondusif bagi terciptanya disiplin sekolah pada seluruh siswa, dalam rangka penerapan nilai-nilai, budaya dan pembentukan karakter bangsa. Dengan demikian visi, misi dan tujuan pendidikan nasional serta tujuan pembangunan nasional akan terwujud. Diharapkan pula siswa ke depannya akan siap memasuki era globalisasi informasi, komunikasi dan teknologi menuju millennium baru. Jazaakallaahkhairankatsiira.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali